Proses evakuasi satwa dilindungi tersebut berlangsung relatif cepat. Harimau masuk ke dalam kandang kurang dari satu jam setelah tim BKSDA menyelesaikan pemasangan kandang jebak di lokasi.
Kepala Balai Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, membenarkan keberhasilan evakuasi tersebut.
“Harimau masuk kandang kurang dari satu jam usai kami memasang kandang jebak di lokasi tersebut,” ujar Ade saat dikonfirmasi di Lubuk Basung, Rabu (12/8/2026).
Pemasangan kandang jebak dilakukan menyusul laporan Pemerintah Nagari Pasia Laweh terkait kemunculan harimau yang mulai mendekati kawasan permukiman warga. Sebelumnya, pada Minggu (9/8/2026), satwa tersebut dilaporkan memangsa seekor kambing milik Afkir Soni (45), warga setempat.
Keberadaan harimau di sekitar pemukiman menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena lokasi kemunculannya berada tidak jauh dari fasilitas pendidikan yang masih aktif, yakni SDN 10 Angge Palimbatan dan SMPN 1 Palupuh.
Untuk mengantisipasi potensi konflik yang lebih besar antara manusia dan satwa liar, BKSDA Sumbar segera mengambil langkah pengamanan dengan memasang kandang jebak di area yang diduga menjadi jalur pergerakan harimau tersebut.
Keberhasilan evakuasi tanpa menimbulkan cedera, baik pada satwa maupun masyarakat, disambut lega oleh warga Nagari Pasia Laweh. Dalam beberapa hari terakhir, sebagian warga dilaporkan membatasi aktivitas pada malam hari akibat kekhawatiran terhadap kemunculan harimau.
Saat ini, harimau betina remaja tersebut berada dalam pengawasan tim BKSDA Sumbar untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan observasi lebih lanjut. Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar penentuan langkah konservasi berikutnya, termasuk kemungkinan pelepasliaran kembali ke habitat yang aman dan jauh dari permukiman warga. Yusra

0 Komentar