Berdasarkan pantauan indeks kualitas udara pada pukul 08.01 WIB, Air Quality Index (AQI) Kota Bukittinggi berada di angka 159 atau masuk kategori Tidak Sehat. Pada saat yang sama, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat sebesar 72 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sedangkan PM10 mencapai 146 µg/m³.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Sejumlah warga mengaku mulai merasakan dampak kabut asap, terutama pada pagi hari saat aktivitas masyarakat mulai meningkat. Jarak pandang juga tampak berkurang dibandingkan kondisi normal.
Memburuknya kualitas udara memunculkan dorongan agar pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipasi apabila kondisi terus berlanjut. Salah satu usulan yang mengemuka adalah penerapan sistem kerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi aparatur sipil negara serta pembelajaran daring bagi siswa.
Anggota DPRD Bukittinggi, Andi Putra, menilai pemerintah perlu menyiapkan berbagai skenario mitigasi untuk melindungi masyarakat dari dampak paparan asap.
"Keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas. Jika kualitas udara semakin memburuk, opsi WFH dan pembelajaran daring perlu dipertimbangkan sebagai langkah sementara untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan," ujarnya.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker saat beraktivitas di area terbuka, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.
Hingga Senin pagi, kabut asap masih terlihat menyelimuti sejumlah kawasan di Bukittinggi dan sekitarnya, sementara masyarakat berharap kondisi kualitas udara dapat segera membaik dalam beberapa hari ke depan. ( Chandra)

0 Komentar