![]() |
| Seorang ibu membawa balitanya untuk pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Anak Air, Kecamatan Koto Tangah, Padang. (Foto: Wati) |
Kepala Puskesmas Anak Air menyebutkan, dari jumlah tersebut sebanyak 37 kasus masuk kategori kompleks sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut melalui sistem rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, ( 02/09).
“Kasus-kasus yang memiliki kondisi penyerta atau membutuhkan pemeriksaan lanjutan kami rujuk agar mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif,” ujarnya.
Sementara itu, balita stunting lainnya tetap mendapatkan intervensi secara berkala melalui program asuhan gizi, pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal, pemantauan pertumbuhan, serta edukasi kepada orang tua terkait pola asuh dan pemenuhan gizi anak.
Selain melibatkan tenaga kesehatan, program penanganan stunting juga didukung oleh kader Posyandu yang aktif melakukan pendampingan di tingkat kelurahan. Kader membantu memantau kondisi balita, mengedukasi keluarga, serta memastikan anak mengikuti jadwal pemeriksaan rutin.
Menurutnya, pencegahan stunting tidak hanya dilakukan saat anak sudah lahir, tetapi dimulai sejak masa kehamilan. Karena itu, pemeriksaan kesehatan ibu hamil, pemenuhan gizi, hingga pemantauan tumbuh kembang anak menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka stunting.
Puskesmas Anak Air juga terus mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan intervensi yang diberikan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader Posyandu, keluarga, dan masyarakat, penanganan stunting diharapkan semakin optimal sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing di masa depan. (Wati)
.jpg)
0 Komentar