Kabut Asap Pekat Selimuti Pekanbaru, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Pemandangan Kota Pekanbaru yang diselimuti kabut asap pekat, Sabtu (29/8/2026). (Foto: Andi)




Lansaninews.com, Pekanbaru — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah Kota Pekanbaru, Sabtu (29/8/2026). Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikulat PM2.5 di Pekanbaru pada pukul 03.00 WIB tercatat sekitar 84,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Kondisi tersebut memburuk beberapa jam kemudian. Pada pukul 06.00 WIB, konsentrasi PM2.5 meningkat menjadi sekitar 106,5 µg/m³ dan masih berada dalam kategori tidak sehat.

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, yakni dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Tingginya konsentrasi partikulat ini menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas udara.

Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan menggunakan metode Beta Attenuation Monitoring (BAM), dengan satuan mikrogram per meter kubik.

Sementara itu, aktivitas titik panas masih terpantau di sejumlah wilayah Sumatera. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga pukul 23.00 WIB, terdapat sekitar 1.813 titik panas yang terdeteksi di Pulau Sumatera.

Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 1.036 titik. Riau berada di posisi berikutnya dengan 265 titik panas.

Selain itu, titik panas juga terpantau di Jambi sebanyak 181 titik, Lampung 100 titik, Bangka Belitung 91 titik, Aceh 77 titik, Sumatera Utara 54 titik, Bengkulu 3 titik, Kepulauan Riau 4 titik, dan Sumatera Barat 2 titik.

Untuk wilayah Riau, titik panas tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, mencapai 120 titik.

Selanjutnya, Indragiri Hilir terpantau 67 titik, Bengkalis 20 titik, Indragiri Hulu 20 titik, Kuantan Singingi 15 titik, Siak 14 titik, Rokan Hilir 3 titik, Rokan Hulu 3 titik, Kampar 2 titik, serta Dumai 1 titik.

Kondisi ini menunjukkan aktivitas karhutla masih menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi kualitas udara, terutama ketika asap terbawa angin menuju kawasan permukiman.

Masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan, diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. ( Andi)

Posting Komentar

0 Komentar