Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Riau mulai berdampak pada kesehatan masyarakat. Sejumlah warga mengeluhkan gangguan pernapasan seiring memburuknya kualitas udara dalam beberapa hari terakhir.
Salah seorang warga Kecamatan Kulim, Pekanbaru, Winda, mengaku mengalami gejala batuk dan pilek sejak beberapa hari terakhir. Keluhan tersebut muncul bersamaan dengan semakin pekatnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Pekanbaru.
Merasa kondisi kesehatannya terganggu, Winda memutuskan memeriksakan diri ke salah satu klinik. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter menemukan adanya gangguan pada saluran pernapasan yang diduga berkaitan dengan kondisi cuaca panas dan paparan asap.
“Dokter menyarankan agar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan selalu menggunakan masker saat berada di luar rumah,” kata Winda, Minggu (23/8/2026).
Ia mengaku kini lebih berhati-hati saat beraktivitas. Jika tidak memiliki keperluan mendesak, Winda memilih tetap berada di dalam rumah untuk menghindari paparan asap yang semakin mengganggu.
“Sekarang kalau keluar rumah harus pakai masker. Kalau tidak ada keperluan penting, lebih baik di rumah,” ujarnya.
Kondisi kabut asap di sejumlah wilayah Riau dalam beberapa hari terakhir memang semakin terasa. Selain mengurangi jarak pandang, asap juga dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), khususnya bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan. ( Andi)

0 Komentar