![]() |
| Personel gabungan TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni menyiram lahan gambut untuk mendinginkan bara api di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Selasa (25/8/2026). (Foto: Andi) |
Di lapangan, sebanyak 283 personel gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan lahan gambut yang terbakar di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Fokus utama petugas saat ini adalah memastikan tidak ada bara api yang tersisa di bawah permukaan gambut yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Berdasarkan pantauan di lokasi, personel gabungan terdiri dari unsur Polri, Brimob, TNI, BPBD, Manggala Agni, serta dukungan dari sejumlah perusahaan. Mereka dibagi ke dalam 10 regu untuk mempercepat proses pendinginan di titik-titik yang masih mengeluarkan asap.
Kapolres Kampar AKBP Boby Putra Ramadhan Sebayang mengatakan, proses pendinginan menjadi tahap krusial mengingat karakteristik lahan gambut yang memungkinkan bara api bertahan dalam waktu lama di bawah permukaan tanah.
“Fokus kami saat ini memastikan seluruh bara yang masih tersimpan di dalam gambut benar-benar padam dan tidak kembali memunculkan api. Karena itu personel dibagi menjadi 10 regu agar penanganan lebih efektif,” ujarnya.
Data sementara menunjukkan luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 13 hektare. Sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan gambut dengan vegetasi semak belukar yang mudah terbakar saat kondisi kering.
Untuk mendukung operasi pemadaman, petugas mengerahkan berbagai peralatan seperti mesin pompa, nozzle, selang pemadam, water tank, hingga kendaraan pemadam kebakaran. Selain melakukan penyiraman pada titik yang masih mengeluarkan asap, petugas juga membuat blokade basah di area sekitar guna mencegah api merambat ke lahan yang belum terbakar.
Di sisi lain, aparat kepolisian juga memasang garis polisi di lokasi kejadian. Proses penyelidikan terkait penyebab kebakaran maupun kepemilikan lahan masih berlangsung.
“Penanganan di lapangan berjalan bersamaan dengan proses penyelidikan. Kami masih mendalami penyebab kebakaran dan pihak yang bertanggung jawab,” kata Boby.
Hingga Selasa siang, asap tipis masih terlihat di beberapa bagian lahan. Kondisi cuaca dan perubahan arah angin menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam memastikan seluruh titik api benar-benar padam.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Riau Kombes Akmadi mengatakan penanganan karhutla di Kampar merupakan bagian dari operasi terpadu yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah hingga masyarakat dan pihak perusahaan.
Menurutnya, pengendalian karhutla tidak hanya dilakukan melalui pemadaman, tetapi juga melalui deteksi dini, patroli, pendinginan, serta upaya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.
“Semua unsur bergerak bersama. Kolaborasi menjadi kunci agar pengendalian karhutla dapat dilakukan secara cepat dan efektif,” ujarnya.
Akmadi menambahkan, perkembangan hotspot di Riau terus dipantau secara berkala. Berdasarkan pemantauan terakhir, jumlah hotspot masih tercatat dua titik dan berada pada lokasi yang sama.
Meski menunjukkan tren penurunan, pihaknya menegaskan seluruh jajaran tetap diminta siaga penuh hingga tidak lagi ditemukan asap maupun bara api di lapangan.
“Targetnya bukan hanya memadamkan api di permukaan, tetapi memastikan tidak ada potensi kebakaran kembali. Karena itu proses pendinginan akan terus dilakukan sampai kondisi benar-benar aman,” tegasnya.
Polda Riau bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus melakukan pemantauan hotspot dan firespot, patroli terpadu, serta operasi pemadaman dan pendinginan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah meluasnya karhutla di wilayah Riau.
(Andi)

0 Komentar