![]() |
| pohon kurma bisa hidup dan berbuah di tanah gurun Timur Tengah Di Jorong Basuang, Nagari Sulit Air, Kabupaten Solok ( Poto Juned) |
Persepsi bahwa pohon kurma hanya bisa hidup dan berbuah di tanah gurun Timur Tengah perlahan mulai terkikis. Di Jorong Basuang, Nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, sebuah terobosan pertanian lokal berhasil dibuktikan oleh H. Sapril Aba, atau yang lebih dikenal dengan nama Haji Cap.
Di atas lahan miliknya yang berlokasi di Kubang Putiah Sopan, Haji Cap berhasil mengelolanya menjadi kebun kurma percontohan. Saat ini, terdapat sekitar 86 batang pohon kurma yang tumbuh subur, produktif, dan rutin berbuah.
Inisiatif ini bukan muncul mendadak. Benih semangat tersebut sudah tertanam sejak ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1993. Kala itu, Haji Cap terkesan melihat hamparan kebun kurma di Arab Saudi yang tetap bisa berbuah lebat meski di atas lahan yang minim air. Pengalaman tersebut memicu tekadnya untuk membawa potensi serupa ke tanah kelahirannya di Sulit Air.
Keberhasilan ini sekaligus mematahkan keraguan banyak orang. Selama ini, tidak sedikit masyarakat yang mencoba menanam kurma di dalam negeri namun gagal memanen buahnya. Di tangan dingin Haji Cap—dengan dibantu oleh keponakannya—pohon kurma yang ditanam tidak hanya berbuah, tetapi juga memiliki cita rasa manis yang diklaim melebihi kurma impor.
Kunci utama produktivitas kebun ini terletak pada metode perawatan alami. Haji Cap mengandalkan racikan pupuk kompos mandiri yang dikombinasikan dengan pupuk organik. Hasilnya, tanaman kurma yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk berproduksi, di lahannya sudah mulai berbuah pada usia 3 hingga 4 tahun. Bahkan, beberapa pohon yang baru berumur 2 tahun tercatat sudah belajar mengeluarkan buah.
Sejak panen perdana pada tahun 2023, produktivitas kebun terus meningkat. Dalam rentang periode November 2025 hingga Juli 2026 saja, kebun ini telah mencatatkan dua kali siklus panen.
Melihat potensi yang ada, Haji Cap tidak berniat menyimpan ilmunya sendiri. Ia berharap kebun percontohan ini dapat difungsikan sebagai wadah edukasi atau sekolah non-formal bagi warga sekitar. Ia juga membuka pintu bagi siapa saja yang memiliki pohon kurma yang "mandek" atau tak kunjung berbuah untuk belajar metode pemeliharaannya.
Melalui langkah ini, Haji Cap berharap Nagari Sulit Air tidak hanya dikenal dengan nama daerahnya, tetapi juga dikenal sebagai sentra edukasi dan percontohan budi daya kurma yang sukses di Sumatra Barat. (Juned)

0 Komentar