– Keresahan terhadap maraknya fenomena penyimpangan seksual di Sumatera Barat memicu aksi nyata dari kalangan akademisi. Sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli mendatangi Kantor DPD Partai NasDem Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (25/04/2026).
Kedatangan mereka bertujuan untuk menggelar diskusi mendalam terkait penanggulangan perilaku LGBT yang kian mengkhawatirkan di wilayah tersebut.
Darurat Penyimpangan Seksual di Tanah Datar
Langkah proaktif mahasiswa ini dipicu oleh rilis data yang menempatkan Provinsi Sumatera Barat di peringkat kelima nasional dengan jumlah kasus LGBT terbanyak. Kabupaten Tanah Datar sendiri menjadi salah satu daerah yang mendapat sorotan tajam terkait penyebaran fenomena
Rombongan mahasiswa disambut langsung oleh jajaran pengurus DPD NasDem Tanah Datar, di antaranya:
Djon Fauzi Sinyal, SH (Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM)
H. M. Yasin (Wakil Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat)
Waspada Predator dan Regenerasi Perilaku
Dalam paparannya, H. M. Yasin menegaskan bahwa LGBT bukanlah sekadar pilihan gaya hidup, melainkan perilaku menyimpang yang membawa dampak buruk bagi kesehatan dan tatanan sosial.
"LGBT adalah perilaku yang menyimpang dan berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Yang lebih mengkhawatirkan, para pelaku ini bisa bertindak sebagai predator yang menyasar anak-anak di bawah umur sebagai korban regenerasi mereka," tegas M. Yasin di hadapan para mahasiswa.
Benturan Norma dan Tantangan Global
Diskusi panel tersebut membedah fenomena LGBT dari tiga kacamata utama:
Perspektif Agama: Islam hanya mengakui pernikahan sah antara laki-laki dan perempuan. Segala bentuk hubungan di luar ketentuan tersebut dianggap melanggar kodrat dan syariat.
Norma Budaya: LGBT dinilai bertolak belakang dengan filosofi masyarakat Minangkabau, yakni Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Tantangan Global: Saat ini terdapat 25 negara yang telah melegalkan pernikahan sejenis. Hal ini dipandang sebagai ancaman serius bagi ketahanan institusi keluarga di Indonesia.
Peran Keluarga: 9 Persen Pelaku Masih Tinggal dengan Orang Tua
Fakta mengejutkan terungkap dalam diskusi tersebut, di mana data menunjukkan sekitar 9 persen pelaku LGBT ternyata masih tinggal bersama orang tua mereka. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa pengawasan di level keluarga seringkali kecolongan.
Selain keluarga, peran media juga disorot agar tidak melakukan normalisasi terhadap perilaku menyimpang melalui konten-konten yang disajikan kepada publik.
Mahasiswa Sebagai Garda Terdepan
Menutup kegiatan, Djon Fauzi Sinyal memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Aliansi Mahasiswa Peduli UIN Batusangkar. Ia berharap edukasi ini bisa diteruskan ke tengah masyarakat luas.
"Kami berharap diskusi ini memberikan manfaat nyata. Mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menjaga norma dan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya penyimpangan ini," pungkas Djon. (Juned)
Tags:
Tanah Datar
